Rabu, 14 Desember 2016

AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM TRADISI LEGENA DS. KLUWIH

AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM TRADISI LEGENANAN

A.      Pengertian Akulturasi
              Akulturasi adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Dalam hal ini bisa dimisalkan dengan apabila masyarakat pendatang berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kebudayaan setempat.
              Bentuk akulturasi dalam tradisi Legenanan adalah pada rangkaian upacara tradisi Legenanan yang terdapat perpaduan antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Bentuk-bentuk akulturasi dalam upacara Legenanan diantaranya, adalah :
1.        Sesaji (tumpeng, ingkung, jajanan pasar, dan lain-lain) pada acara tahlilan. Dengan masuknya Islam, sesaji tersebut masih diadakan akan tetapi tujuannya tidak lagi untuk dipersembahkan kepada sing mbau rekso dan leluhur melainkan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala karunia dan nikmatnya yang telah diberikan kepada masyarakat desa Kluwih.
2.        Upacara Legenanan di desa Kluwih yang semula menggunakan mantra untuk memuja sing mbau rekso dan leluhur yang sudah meninggal dengan masuknya Islam mantra tersebut juga diiringi dengan do’a-do’a sesuai tuntunan syari’at Islam yang didalamnya menggunaan bahasa Jawa (maujud) untuk berdo’a kepada Allah Yang Maha Kuasa.
3.        Akulturasi antara kisah atau pakem pewayangan yang berdasarkan budaya Hindu-Budha yang kemudian digabungkan dengan unsur-unsur Islam:
·         Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, karena kalimah Syahadah memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, sifat-sifat  Puntadewa sebagai raja (syahadat bagaikan rajanya rukun Islam) yang memiliki sikap berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan, sebagai pengejawantahan dari kalimah Syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin empat saudaranya dengan penuh suka duka dan kasih sayang. Demikian pula kalimah Syahadat sebagai “rajanya” rukun Islam yang lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, namun apabila tak menjalankan rukun Islam yang pertama maka semua amalannya akan sia-sia belaka.
·         Shalat lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima. Dalam kisah pewayangan tokoh tersebut dikenal juga sebagai Penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang tidak dapat duduk. Tidur dan merempun konon berdiri pula. Demikian pula sholat lima waktu selamanya harus ditegakkan. Baginya terpikul tugas penegak agama Islam dan jangan lupa sholat adalah tiang agama. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “ Shalat lima waktu adalah penegak agama Islam. Siapa-siapa yang menjalankannya berarti menegakan Islam”.
·         Zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. Nama Arjuna diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa yang jernih. Kejernihan Arjuna memancar pada jiwa dan tubuhnya. Arjuna juga merupakan seorang pecinta seni keindahan. Perasaannya amat halus dan hangat. Karena kehalusannya, Arjuna jadi sulit mengatakan “tidak”. Karena kehalusan budi pekertinya tersebut Arjuna seolah-olah mempunyai kesan lemah. Padahal semua itu dilakukan agar tidak menyakiti hati orang lain. Selain itu dalam perang yang dijalaninya Arjuna tidak terkalahkan. Maka demikianlah, zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, karena setiap muslim berkewajiban berzakat, mengandung inti kebijaksanaan agar setiap orang Islam untuk berjuang memperoleh rizki dan kekayaan. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Bima dan Arjuna paling menonjol peranannya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi dwi-tunggal yang tidak terpisahkan. Demikian pula sholat lima waktu dan zakat merupakan dua rukun Islam yang tidak terpisahkan, selamanya berjalan seiring-sejalan.
·         Puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa. Kedua tokoh ini tampil pada saat-saat tertentu saja. Demikian pula dengan puasa Ramadhan dan Haji tidak setiap hari dikerjakan. Bulan Ramadhan untuk puasa dan bulan Zulhijah, sekali dalam setahun untuk melakukan ibadah Haji. Pandawa bukanlah Pandawa tanpa si kembar Nakula dan Sadewa. Memanglah demikian, Puasa Ramadhan dan Haji lahir pada bulan tertentu, tidak demikian halnya dengan 3 rukun Islam sebelumnya, yang dilakukan setiap saat tiap hari.
              Kemudian pada hiburan yang ada dalam tradisi Legenanan adalah Wayang Golek, yang mana wayang golek tersebut salah satu bentuk akulturasi antara budaya hindu-budha dengan Islam.
              Pewayangan mempunyai andil besar dalam pengislamanan masyarakat Jawa. Sebetulnya wayang sendiri merupakan peninggalan agama Hindu. Namun para Wali dapat berpikir rasional. Mereka sadar bahwa pertunjukan wayang telah berakar kuat di masyarakat dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu saja. Maka para wali melakukan perubahan dengan cara mengubah bentuk dan memasukan unsur ke-Islaman, sehingga wayang menjadi suatu alat da’wah yang sangat digemari dalam masyarakat. Di antara para wali yang sangat terkenal sering mendalang adalah Sunan Kalijaga.
              Sunan Kalijaga sangat berhasil  dalam berdakwah melalui media wayang. Unsur baru berupa ajaran Islam dimasukkan dalam pewayangan. Ia membuat “pakem pewayangan baru” yang bernafaskan Islam dengan cara menyelipkan ajaran Islam dalam pakem pewayangan yang asli. Dengan cara demikian, masyarakat yang menonton wayang dapat menerima langsung ajaran Islam dengan suka rela dan mudah.
              Wayang golek mengambil metode dengan jalan mempersonifikasikan atau memanusiakan tokoh-tokoh “Pandawa Lima” seperti Puntadewa untuk Syahadat, Bima untuk Shalat, Arjuna untuk zakat, Nakulo-Sadewa untuk puasa Ramadhan dan Haji. Bahkan kisah-kisah pewayangan dijadikan media terutama untuk mengajarkan ilmu Tasawuf , hakikat, syariat, ibadah dan lain-lain.
              Dalam kesenian wayang tentunya tidak akan terlepas dari peranan seorang dalang. Dulu dalang dianggap sebagai seseorang yang sangat dihormati, dihargai, dan disegani oleh masyarakat. Ia dianggap mempunyai kelebihan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat. Misalnya menyelamatkan seseorang dari malapetaka, menentukan hari baik, dan hari buruk menurut primbon, menyembuhkan berbagai penyakit, peranan dalang layaknya seorang dukun. Dalang sebenarnya berasal dari kata Arab “dalla” yang artinya “juru penerang” yang bertugas memberikan penerangan tentang Islam lewat wayang golek. Jadi tugas dan peranan seorang dalang dalam masyarakat sangatlah penting, terutama sebagai penyelamat umat manusia seutuhnya, dengan cara memberikan penerangan ajaran Islam lewat media pewayangan. Mengingat peranannya tersebut, maka dalang harus mengetahui, memahami, dan menguasai semua ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama Islam.




B.     Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Legenanan Bagi Kehidupan Mereka

              Dalam menanggapi tradisi Legenanan yang ada di desa Kluwih tiap orang satu dengan yang lain selalu berbeda-beda, dengan demikian persepsi masyarakat desa Kluwih terhadap tradisi Legenanan ini dapat dikelompokkan berdasarkan mata pencaharian yang ada di desa Kluwih, diantaranya:
a.    Petani
        Legenanan yang diwariskan dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat desa Kluwih, tidak mungkin tidak menyimpan nilai-nilai luhur. Hal itu dapat dicermati pada makna-makna yang terkandung dalam simbol-simbol. Pada pelaksanaan tradisi Legenanan di desa Kluwih telah meneladankan semangat bahwa manusia tidak hidup sendirian. Mereka membutuhkan bantuan dari kekuatan lain yang adikodrati.
        Legenanan yang diselengarakan oleh masyarakat desa Kluwih mengandung nilai-nilai yang erat kaitannya dengan kehidupan mereka sebagai petani. Nilai yang dapat dipetik hikmahnya adalah adanya gotong royong, saling tolong menolong dalam mengerjakan pekerjaan mereka.
        Menurut kepercayaan mereka bahwa Legenanan tersebut dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang telah diberikan, karena mayoritas mata pencaharian di desa Kluwih adalah bertani. Disamping itu, mereka percaya bahwa dengan bersahabat dengan alam maka hasil bumi tersebut akan mereka peroleh. Mengingat kembali apa yang dikatakan oleh bapak Rakoep sebagai salah satu dari petani di desa Kluwih,
 “Karena, segala rezeki yang kita dapat itu tidak hanya berasal dari kita sendiri, melainkan lewat campur tangan Tuhan,” maka kita diajarkan untuk terus mendekat pada Tuhan. Menurutnya, rezeki itu tidak semata uang, tapi juga kebahagiaan, kenyamanan dan keamanan berkehidupan dalam masyarakat. Upacara Legenanan menurut kepercayaan di Desa Kluwih, wajib dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya dengan melaksanakan upacara Legenanan dipercaya akan mendatangkan kebaikan. Kami percaya bahwa bumi yang ditempati akan aman dan tidak terjadi bencana, Apabila “diselameti”.

        Ritual Legenanan yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat Kluwih ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan. Menurut cerita dari para nenek moyang orang Jawa terdahulu, "Tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar. Ritual Legenanan inilah yang menurut mereka sebagai salah satu simbol yang paling dominan bagi masyarakat untuk menunjukan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberi kehidupan bagi manusia". Dengan melakukan ritual Legenanan, masyarakat berharap tanah yang dipijak tidak akan pernah marah seperti tanah longsor dan bisa bersahabat bersandingan dengan masyarakat yang menempatinya. Selain itu, Legenanan dalam tradisi masyarakat, juga merupakan salah satu bentuk untuk menuangkan serta mencurahkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah yang telah diberikan-Nya. Sehingga seluruh masyarakat bisa menikmatinya.
b.    Pegawai Negeri Sipil (PNS)
        Legenanan mengajarkan kepada masyarakat desa Kluwih untuk saling membantu meringankan beban sesama yang dimanifestasikan dalam bentuk pembagian hasil panen dan hasil bumi lainnya. Legenanan tidak hanya mengajarkan masyarakat desa untuk saling berbagi kepada sesama, namun juga menjadi wadah untuk suatu interaksi sosial yang terwujud  dalam upaya saling merekatkan tali persaudaraan. Interaksi ini pada akhirnya akan memunculkan perubahan dalam masyarakat. Dengan demikian, sangat jelas bahwa adanya Legenanan akan sangat berpengaruh pada rotasi kehidupan sosial masyarakat desa Kluwih. Sekurang-kurangnya mereka akan menjadi masyarakat yang terbuka antar satu dengan lainnya. Dengan sikap terbuka itu pula sebuah masyarakat akan kokoh.
             Pada zaman dahulu, upacara Legenanan merupakan sarana pemujaan kepada nenek moyang dan sekaligus pemujaan kepada Dewi Sri (Dewa Kesuburan menurut mitologi agama Hindu) agar masyarakat dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan dan diberi kesuburan, sehingga akan tercipta masyarakat toto tentrem gemah ripah loh jinawi. Kini, hakekat upacara Legenanan adalah usaha bersama masyarakat memohon kepada Tuhan Allah SWT agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana serta selalu diberi kesejahteraan atau akan tercipta baldatun toyyibatun warabbun ghofur. Generasi penerus perlu memiliki sikap nguri-nguri terhadap kesenian tradisional. Siraman rohani dalam pengajian umum dalam rangka upacara Legenanan dipandang sebagai sarana untuk memperdalam wawasan keagamaan. Salah persepsi terhadap upacara Legenanan sedikit demi sedikit mulai terkikis, sehingga diharapkan pelaksanaan upacara Legenanan sejalan dengan ajaran agama Islam. Usaha masyarakat mempertahankan tradisi upacara Legenanan yang berasal dari tradisi nenek moyang dengan memasukkan unsur ajaran agama Islam, menunjukkan telah terjadi akulturasi antara budaya Jawa dan Islam pada prosesi dari tradisi Legenanan dan pertunjukan wayang golek tersebut.
c.    Pedagang
        Legenanan merupakan ajang untuk bersosialisasi. Dalam melakukannya masyarakat tidak membedakan satu orang dengan orang lainnya berdasarkan kelas-kelas, mereka membaur menjadi satu dengan adanya Legenanan. masyarakat berusaha untuk tidak melakukan diskriminasi diantara sesama. Bagi masyarakat desa sosialisasi memiliki arti dan manfaat yang sangat penting. oleh karena itu mereka sangat menjaga keharmonisan hidup dengan masyarakat disekitarnya.
d.   Karyawan Swasta
        Legenanan berfungsi sebagai penyeimbang kesenjangan ekonomi yang terjadi pada suatu masyarakat. Adanya upacara Legenanan seperti ini telah mempengaruhi rotasi perekonomin masyarakat kecil, yakni tingkat desa. Hal ini tentu tidk boleh dikesampingkan, sebab dengan adanya Legenanan masyarakat yang kurang mampu akan merasa terbantu.
        Upacara Legenanan merupakan salah satu bentuk syukur kita atas berkat Allah SWT yang telah memberikan rizki kepada kita. Sehingga kita wajib untuk mensyukuri nikmat Allah SWT tersebut. Legenanan adalah salah satu adat istiadat yang sampai sekarang masih terjaga keberadaannya, sehingga kita bagi para penerus untuk tetap melestarikannya, meskipun kadang tradisi Legenanan ini terasa begitu tidak penting karena memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagian masyarakat merasa keberatan dengan jumlah iuran yang dibebankan kepada mereka untuk melaksanakan upacara tradisi Legenanan tersebut.
e.    Aparatur Desa
        Legenanan adalah wujud dari syukur masyarakat. Dahulu Masyarakat kita kebanyakan sebagai petani. Sehingga wujud dari hasil panen adalah mengadakan tasyakuran. Dan mengacu pada ayat al-Qur’an, La in syakartum la azidannakum walainkafartum inna adzabi lasyadiid. Kurang lebih artinya barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih. (Q.S. Ibrahim : 7). Untuk sekarang dengan beragamnya profesi masyarakat tentu sekilas sudah tidak sejalan lagi namun yang tidak boleh kita tinggalkan adalah wujud dari syukur tersebut. Salah satunya kebersamaan dan juga demi menyambung silaturahmi minimal 1 tahun sekali.
        Legenanan merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kluwih. Adapun pelaksanaannya tergantung keputusan dari pihak pemerintahan desa setempat. Hiburanpun juga harus sesuai dengan tradisi sebelumnya atau berdasarkan peninggalan nenek moyang yaitu berupa pagelaran wayang golek. Dengan demikian seolah-olah mempunyai kesan bahwa pagelaran wayang golek merupakan pertunjukan yang harus ada dalam tradisi Legenanan. Berdasarkan sejarahnya, wayang golek tersebut dulunya merupakan bentuk nadzar yang dilakukan oleh para petani atau nenek moyang terdahulu jika hasil panen mereka baik maka akan mengadakan hiburan wayang golek. Atas kejadian itu lalu hiburan wayang golek oleh masyarakat dilaksanakan hingga sekarang secara turun temurun dalam tradisi Legenanan. Legenanan sangat penting dilaksanakan untuk menjaga warisan budaya leluhur yang telah dilaksanakan secara turun temurun, sehingga kelestariannya tetap terjaga.    
        Dalam pelaksanaan upacara Legenanan, ada beberapa nilai-nilai yang dapat direkomendasikan sebagai nilai-nilai yang perlu diwariskan kepada generasi penerus, yaitu (1) sikap religius masyarakat, yang tercermin sikap masyarakat yang selalu ingat kepada Allah SWT, sebab alam dan seluruh isinya adalah ciptaan-NYA. Manusia diciptakan oleh Allah SWT, kecuali hanya untuk beribadah kepada-NYA. Semakin manusia itu dekat kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan menurunkan karunia dan rahmat-NYa yang dapat berupa kesejahteraan dan kedamaian. (2) selalu ingat kepada jasa-jasa leluhur atau nenek moyang yang telah mendirikan desa. Sikap ini perlu ditanamkan kepada generasi penerus, sehingga harapan kita, generasi penerus akan memiliki sikap mikul duwur mendem jero. Disamping itu ada beberapa sikap yang telah diperlihatkan oleh masyarakat  dalam melaksanakan upacara Legenanan, dan sikap itu harus tertanam dalam hati para muda, yaitu (1) sikap gotong-royong. Dalam melaksanakan hajatan upacara Legenanan, warga masyarakat saling bahu membahu, bekerja bersama-sama tanpa dibayar. Sikap tanpa pamrih masih tertanam dalam hati masyarakat pedesaan yang masih tetap hidup  bersahaja, (2) sikap hidup rukun saling tolong menolong  yang tercermin dari hidup guyub senantiasa terpelihara dalam kehidupan masyarakat Desa Kluwih, (3)  sikap masyarakat yang senantiasa memelihara silaturahmi sesama warga merupakan modal untuk hidup rukun, sebab dengan memelihara tali silaturahmi, akan tercipta hidup yang damai jauh dari rasa saling curiga mencurigai. Dengan demikian materi upacara Legenanan yang di dalamnya mengandung kearifan lokal merupakan materi yang dapat digunakan sebagai pengayaan pembelajaran sejarah.
             Upacara Legenanan yang dilaksanakan masyarakat desa Kluwih secara ekonomis tidak memiliki dampak signifikan bagi peningkapan kesejahteraan masyarakat, tetapi sebaliknya justru biaya untuk menyelenggarakan upacara Legenanan mencapai  puluhan juta rupiah.  Sekalipun demikian  dalam perspektif pendidikan, upacara Legenanan bermanfaat untuk pengembangan pendidikan, karena dalam ritual tersebut terdapat nilai-nilai pembelajaran, baik yang bersifat sosial yaitu sikap gotong royong, sikap sodaqoh, pasrah, maupun sikap hormat kepada leluhur. Penyelenggaraan Legenanan mengingatkan kepada generasi penerus agar selalu mengingat dan menghormati para leluhur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar