AKULTURASI
ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM TRADISI LEGENANAN
A.
Pengertian Akulturasi
Akulturasi adalah proses sosial
yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu
dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan
sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Dalam hal ini
bisa dimisalkan dengan apabila masyarakat pendatang berkomunikasi dengan
masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat
pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk
menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan
kebudayaan setempat.
Bentuk akulturasi dalam
tradisi Legenanan adalah pada rangkaian upacara tradisi Legenanan yang terdapat
perpaduan antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Bentuk-bentuk akulturasi
dalam upacara Legenanan diantaranya, adalah :
1.
Sesaji (tumpeng, ingkung,
jajanan pasar, dan lain-lain) pada acara tahlilan. Dengan masuknya Islam,
sesaji tersebut masih diadakan akan tetapi tujuannya tidak lagi untuk
dipersembahkan kepada sing mbau rekso dan leluhur melainkan bentuk rasa
syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala karunia dan nikmatnya yang telah
diberikan kepada masyarakat desa Kluwih.
2.
Upacara Legenanan di desa
Kluwih yang semula menggunakan mantra untuk memuja sing mbau rekso dan leluhur
yang sudah meninggal dengan masuknya Islam mantra tersebut juga diiringi dengan
do’a-do’a sesuai tuntunan syari’at Islam yang didalamnya menggunaan bahasa Jawa
(maujud) untuk berdo’a kepada Allah Yang Maha Kuasa.
3.
Akulturasi antara kisah
atau pakem pewayangan yang berdasarkan budaya Hindu-Budha yang kemudian
digabungkan dengan unsur-unsur Islam:
·
Kalimah-Syahadah
dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari
Pandawa, karena kalimah Syahadah memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita
wayang, sifat-sifat Puntadewa sebagai
raja (syahadat bagaikan rajanya rukun Islam) yang memiliki sikap berbudi luhur
dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif bijaksana, adil dalam ucapan dan
perbuatan, sebagai pengejawantahan dari kalimah Syahadat yang selamanya
mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin empat saudaranya dengan
penuh suka duka dan kasih sayang. Demikian pula kalimah Syahadat sebagai
“rajanya” rukun Islam yang lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan rukun
Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, namun apabila tak menjalankan
rukun Islam yang pertama maka semua amalannya akan sia-sia belaka.
·
Shalat
lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima. Dalam kisah pewayangan tokoh
tersebut dikenal juga sebagai Penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja,
karena memang tidak dapat duduk. Tidur dan merempun konon berdiri pula.
Demikian pula sholat lima waktu selamanya harus ditegakkan. Baginya terpikul
tugas penegak agama Islam dan jangan lupa sholat adalah tiang agama. Nabi
Muhammad SAW pernah bersabda: “ Shalat lima waktu adalah penegak agama Islam.
Siapa-siapa yang menjalankannya berarti menegakan Islam”.
·
Zakat
dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. Nama Arjuna
diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa
yang jernih. Kejernihan Arjuna memancar pada jiwa dan tubuhnya. Arjuna juga
merupakan seorang pecinta seni keindahan. Perasaannya amat halus dan hangat.
Karena kehalusannya, Arjuna jadi sulit mengatakan “tidak”. Karena kehalusan
budi pekertinya tersebut Arjuna seolah-olah mempunyai kesan lemah. Padahal
semua itu dilakukan agar tidak menyakiti hati orang lain. Selain itu dalam perang
yang dijalaninya Arjuna tidak terkalahkan. Maka demikianlah, zakat sebagai
rukun Islam yang ketiga, karena setiap muslim berkewajiban berzakat, mengandung
inti kebijaksanaan agar setiap orang Islam untuk berjuang memperoleh rizki dan
kekayaan. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Bima dan Arjuna paling menonjol
peranannya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi dwi-tunggal
yang tidak terpisahkan. Demikian pula sholat lima waktu dan zakat merupakan dua
rukun Islam yang tidak terpisahkan, selamanya berjalan seiring-sejalan.
·
Puasa
Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa. Kedua
tokoh ini tampil pada saat-saat tertentu saja. Demikian pula dengan puasa
Ramadhan dan Haji tidak setiap hari dikerjakan. Bulan Ramadhan untuk puasa dan
bulan Zulhijah, sekali dalam setahun untuk melakukan ibadah Haji. Pandawa
bukanlah Pandawa tanpa si kembar Nakula dan Sadewa. Memanglah demikian, Puasa
Ramadhan dan Haji lahir pada bulan tertentu, tidak demikian halnya dengan 3
rukun Islam sebelumnya, yang dilakukan setiap saat tiap hari.
Kemudian pada hiburan yang ada dalam tradisi Legenanan
adalah Wayang Golek, yang mana wayang golek tersebut salah satu bentuk
akulturasi antara budaya hindu-budha dengan Islam.
Pewayangan mempunyai andil besar dalam pengislamanan
masyarakat Jawa. Sebetulnya wayang sendiri merupakan peninggalan agama Hindu.
Namun para Wali dapat berpikir rasional. Mereka sadar bahwa pertunjukan wayang
telah berakar kuat di masyarakat dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu
saja. Maka para wali melakukan perubahan dengan cara mengubah bentuk dan
memasukan unsur ke-Islaman, sehingga wayang menjadi suatu alat da’wah yang
sangat digemari dalam masyarakat. Di antara para wali yang sangat terkenal
sering mendalang adalah Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga sangat berhasil dalam berdakwah melalui media wayang. Unsur
baru berupa ajaran Islam dimasukkan dalam pewayangan. Ia membuat “pakem
pewayangan baru” yang bernafaskan Islam dengan cara menyelipkan ajaran Islam
dalam pakem pewayangan yang asli. Dengan cara demikian, masyarakat yang
menonton wayang dapat menerima langsung ajaran Islam dengan suka rela dan
mudah.
Wayang golek mengambil metode dengan jalan
mempersonifikasikan atau memanusiakan tokoh-tokoh “Pandawa Lima” seperti
Puntadewa untuk Syahadat, Bima untuk Shalat, Arjuna untuk zakat, Nakulo-Sadewa
untuk puasa Ramadhan dan Haji. Bahkan kisah-kisah pewayangan dijadikan media
terutama untuk mengajarkan ilmu Tasawuf , hakikat, syariat, ibadah dan
lain-lain.
Dalam kesenian wayang tentunya tidak akan terlepas dari
peranan seorang dalang. Dulu dalang dianggap sebagai seseorang yang sangat
dihormati, dihargai, dan disegani oleh masyarakat. Ia dianggap mempunyai
kelebihan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat. Misalnya menyelamatkan
seseorang dari malapetaka, menentukan hari baik, dan hari buruk menurut
primbon, menyembuhkan berbagai penyakit, peranan dalang layaknya seorang dukun.
Dalang sebenarnya berasal dari kata Arab “dalla” yang artinya “juru
penerang” yang bertugas memberikan penerangan tentang Islam lewat wayang golek.
Jadi tugas dan peranan seorang dalang dalam masyarakat sangatlah penting,
terutama sebagai penyelamat umat manusia seutuhnya, dengan cara memberikan
penerangan ajaran Islam lewat media pewayangan. Mengingat peranannya tersebut,
maka dalang harus mengetahui, memahami, dan menguasai semua ilmu pengetahuan,
terutama pengetahuan agama Islam.
B.
Persepsi
Masyarakat Terhadap Tradisi Legenanan Bagi Kehidupan Mereka
Dalam menanggapi tradisi Legenanan yang ada di desa
Kluwih tiap orang satu dengan yang lain selalu berbeda-beda, dengan demikian
persepsi masyarakat desa Kluwih terhadap tradisi Legenanan ini dapat
dikelompokkan berdasarkan mata pencaharian yang ada di desa Kluwih,
diantaranya:
a. Petani
Legenanan
yang diwariskan dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat
desa Kluwih, tidak mungkin tidak menyimpan nilai-nilai luhur. Hal itu
dapat dicermati pada makna-makna yang terkandung dalam simbol-simbol. Pada
pelaksanaan tradisi Legenanan di desa Kluwih telah meneladankan semangat bahwa
manusia tidak hidup sendirian. Mereka membutuhkan bantuan dari kekuatan lain
yang adikodrati.
Legenanan
yang diselengarakan oleh masyarakat desa Kluwih mengandung nilai-nilai yang erat kaitannya dengan
kehidupan mereka sebagai petani. Nilai yang dapat dipetik hikmahnya adalah
adanya gotong royong, saling tolong menolong dalam mengerjakan pekerjaan
mereka.
Menurut kepercayaan mereka bahwa
Legenanan tersebut dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur kepada Allah SWT
atas hasil bumi yang telah diberikan, karena mayoritas mata pencaharian di desa
Kluwih adalah bertani. Disamping itu, mereka percaya bahwa dengan bersahabat
dengan alam maka hasil bumi tersebut akan mereka peroleh. Mengingat kembali apa
yang dikatakan oleh bapak Rakoep sebagai salah satu dari petani di desa Kluwih,
“Karena, segala rezeki yang kita dapat itu
tidak hanya berasal dari kita sendiri, melainkan lewat campur tangan Tuhan,”
maka kita diajarkan untuk terus mendekat pada Tuhan. Menurutnya, rezeki itu
tidak semata uang, tapi juga kebahagiaan, kenyamanan dan keamanan berkehidupan
dalam masyarakat. Upacara Legenanan menurut kepercayaan di Desa Kluwih, wajib
dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya dengan melaksanakan upacara
Legenanan dipercaya akan mendatangkan kebaikan. Kami percaya bahwa bumi yang
ditempati akan aman dan tidak terjadi bencana, Apabila “diselameti”.
Ritual
Legenanan yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat Kluwih ini merupakan salah
satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi
sumber kehidupan. Menurut cerita dari para nenek moyang orang Jawa terdahulu,
"Tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di
muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar.
Ritual Legenanan inilah yang menurut mereka sebagai salah satu simbol yang
paling dominan bagi masyarakat untuk menunjukan rasa cinta kasih sayang dan
sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberi kehidupan bagi
manusia". Dengan melakukan ritual Legenanan, masyarakat berharap tanah
yang dipijak tidak akan pernah marah seperti tanah longsor dan bisa bersahabat
bersandingan dengan masyarakat yang menempatinya. Selain itu, Legenanan dalam
tradisi masyarakat, juga merupakan salah satu bentuk untuk menuangkan serta
mencurahkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah yang
telah diberikan-Nya. Sehingga seluruh masyarakat bisa menikmatinya.
b.
Pegawai
Negeri Sipil (PNS)
Legenanan mengajarkan kepada masyarakat
desa Kluwih untuk saling membantu meringankan beban sesama yang
dimanifestasikan dalam bentuk pembagian hasil panen dan hasil bumi lainnya.
Legenanan tidak hanya mengajarkan masyarakat desa untuk saling berbagi kepada
sesama, namun juga menjadi wadah untuk suatu interaksi sosial yang
terwujud dalam upaya saling merekatkan
tali persaudaraan. Interaksi ini pada akhirnya akan memunculkan perubahan dalam
masyarakat. Dengan demikian, sangat jelas bahwa adanya Legenanan akan sangat
berpengaruh pada rotasi kehidupan sosial masyarakat desa Kluwih.
Sekurang-kurangnya mereka akan menjadi masyarakat yang terbuka antar satu
dengan lainnya. Dengan sikap terbuka itu pula sebuah masyarakat akan kokoh.
Pada
zaman dahulu, upacara Legenanan merupakan sarana pemujaan kepada nenek moyang
dan sekaligus pemujaan kepada Dewi Sri (Dewa Kesuburan menurut mitologi agama
Hindu) agar masyarakat dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan dan diberi
kesuburan, sehingga akan tercipta masyarakat toto tentrem gemah ripah loh
jinawi. Kini, hakekat upacara Legenanan adalah usaha bersama masyarakat memohon
kepada Tuhan Allah SWT agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari
bencana serta selalu diberi kesejahteraan atau akan tercipta baldatun toyyibatun
warabbun ghofur. Generasi penerus perlu memiliki sikap nguri-nguri terhadap
kesenian tradisional. Siraman rohani dalam pengajian umum dalam rangka upacara
Legenanan dipandang sebagai sarana untuk memperdalam wawasan keagamaan. Salah
persepsi terhadap upacara Legenanan sedikit demi sedikit mulai terkikis,
sehingga diharapkan pelaksanaan upacara Legenanan sejalan dengan ajaran agama
Islam. Usaha masyarakat mempertahankan tradisi upacara Legenanan yang berasal
dari tradisi nenek moyang dengan memasukkan unsur ajaran agama Islam,
menunjukkan telah terjadi akulturasi antara budaya Jawa dan Islam pada prosesi
dari tradisi Legenanan dan pertunjukan wayang golek tersebut.
c.
Pedagang
Legenanan
merupakan ajang untuk bersosialisasi. Dalam melakukannya masyarakat tidak
membedakan satu orang dengan orang lainnya berdasarkan kelas-kelas, mereka
membaur menjadi satu dengan adanya Legenanan. masyarakat berusaha untuk tidak
melakukan diskriminasi diantara sesama. Bagi masyarakat desa sosialisasi
memiliki arti dan manfaat yang sangat penting. oleh karena itu mereka sangat
menjaga keharmonisan hidup dengan masyarakat disekitarnya.
d. Karyawan Swasta
Legenanan berfungsi sebagai penyeimbang kesenjangan
ekonomi yang terjadi pada suatu masyarakat. Adanya upacara Legenanan seperti ini
telah mempengaruhi rotasi perekonomin masyarakat kecil, yakni tingkat desa. Hal
ini tentu tidk boleh dikesampingkan, sebab dengan adanya Legenanan masyarakat
yang kurang mampu akan merasa terbantu.
Upacara
Legenanan merupakan salah satu bentuk syukur kita atas berkat Allah SWT yang
telah memberikan rizki kepada kita. Sehingga kita wajib untuk mensyukuri nikmat
Allah SWT tersebut. Legenanan adalah salah satu adat istiadat yang sampai
sekarang masih terjaga keberadaannya, sehingga kita bagi para penerus untuk
tetap melestarikannya, meskipun kadang tradisi Legenanan ini terasa begitu
tidak penting karena memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagian masyarakat
merasa keberatan dengan jumlah iuran yang dibebankan kepada mereka untuk
melaksanakan upacara tradisi Legenanan tersebut.
e. Aparatur Desa
Legenanan adalah wujud
dari syukur masyarakat. Dahulu Masyarakat kita kebanyakan sebagai petani.
Sehingga wujud dari hasil panen adalah mengadakan tasyakuran. Dan mengacu pada
ayat al-Qur’an, La in syakartum la azidannakum walainkafartum inna adzabi
lasyadiid. Kurang lebih artinya barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku
tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya
adzab-Ku amat pedih. (Q.S. Ibrahim : 7). Untuk sekarang dengan beragamnya
profesi masyarakat tentu sekilas sudah tidak sejalan lagi namun yang tidak
boleh kita tinggalkan adalah wujud dari syukur tersebut. Salah satunya
kebersamaan dan juga demi menyambung silaturahmi minimal 1 tahun sekali.
Legenanan merupakan tradisi
rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kluwih. Adapun pelaksanaannya
tergantung keputusan dari pihak pemerintahan desa setempat. Hiburanpun juga
harus sesuai dengan tradisi sebelumnya atau berdasarkan peninggalan nenek
moyang yaitu berupa pagelaran wayang golek. Dengan demikian seolah-olah
mempunyai kesan bahwa pagelaran wayang golek merupakan pertunjukan yang harus
ada dalam tradisi Legenanan. Berdasarkan sejarahnya, wayang golek tersebut
dulunya merupakan bentuk nadzar yang dilakukan oleh para petani atau nenek
moyang terdahulu jika hasil panen mereka baik maka akan mengadakan hiburan
wayang golek. Atas kejadian itu lalu hiburan wayang golek oleh masyarakat
dilaksanakan hingga sekarang secara turun temurun dalam tradisi Legenanan.
Legenanan sangat penting dilaksanakan untuk menjaga warisan budaya leluhur yang
telah dilaksanakan secara turun temurun, sehingga kelestariannya tetap terjaga.
Dalam
pelaksanaan upacara Legenanan, ada beberapa nilai-nilai yang dapat
direkomendasikan sebagai nilai-nilai yang perlu diwariskan kepada generasi
penerus, yaitu (1) sikap religius masyarakat, yang tercermin sikap masyarakat
yang selalu ingat kepada Allah SWT, sebab alam dan seluruh isinya adalah
ciptaan-NYA. Manusia diciptakan oleh Allah SWT, kecuali hanya untuk beribadah
kepada-NYA. Semakin manusia itu dekat kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan
menurunkan karunia dan rahmat-NYa yang dapat berupa kesejahteraan dan
kedamaian. (2) selalu ingat kepada jasa-jasa leluhur atau nenek moyang yang
telah mendirikan desa. Sikap ini perlu ditanamkan kepada generasi penerus,
sehingga harapan kita, generasi penerus akan memiliki sikap mikul duwur
mendem jero. Disamping itu ada beberapa sikap yang telah diperlihatkan oleh
masyarakat dalam melaksanakan upacara
Legenanan, dan sikap itu harus tertanam dalam hati para muda, yaitu (1) sikap
gotong-royong. Dalam melaksanakan hajatan upacara Legenanan, warga masyarakat
saling bahu membahu, bekerja bersama-sama tanpa dibayar. Sikap tanpa pamrih
masih tertanam dalam hati masyarakat pedesaan yang masih tetap hidup bersahaja, (2) sikap hidup rukun saling
tolong menolong yang tercermin dari
hidup guyub senantiasa terpelihara dalam kehidupan masyarakat Desa Kluwih,
(3) sikap masyarakat yang senantiasa
memelihara silaturahmi sesama warga merupakan modal untuk hidup rukun, sebab
dengan memelihara tali silaturahmi, akan tercipta hidup yang damai jauh dari
rasa saling curiga mencurigai. Dengan demikian materi upacara Legenanan yang di
dalamnya mengandung kearifan lokal merupakan materi yang dapat digunakan
sebagai pengayaan pembelajaran sejarah.
Upacara
Legenanan yang dilaksanakan masyarakat desa Kluwih secara ekonomis tidak
memiliki dampak signifikan bagi peningkapan kesejahteraan masyarakat, tetapi
sebaliknya justru biaya untuk menyelenggarakan upacara Legenanan mencapai puluhan juta rupiah. Sekalipun demikian dalam perspektif pendidikan, upacara
Legenanan bermanfaat untuk pengembangan pendidikan, karena dalam ritual
tersebut terdapat nilai-nilai pembelajaran, baik yang bersifat sosial yaitu
sikap gotong royong, sikap sodaqoh, pasrah, maupun sikap hormat kepada leluhur.
Penyelenggaraan Legenanan mengingatkan kepada generasi penerus agar selalu
mengingat dan menghormati para leluhur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar