Kamis, 22 Desember 2016

MASKER KUNYIT UNTUK MEMUTIHKAN KULIT

kali ini aku berbagi ilmunya tentang kecantikan ya gays, yang pastinya alami dan gak bikin kantong boloong. hehe
bahan yang aku rekomendasikan adalah menggunakan kunyit nih, seperti yang kita ketahui kunyit banyak manfaatnya kan gays, dan pastinya mudah banget di dapat.
ingin punya kulit putih gak perlu biaya mahal-mahal nih kunyit juga bisa dijadikan sebagai masker wajah biar wajahmu bisa jadi putih. mau tahu kan? nihh caranya.


Cara Membuat Masker Kunyit Untuk Memutihkan Kulit


1. Campuran Kunyit dan Madu
Cara pertama untuk membuat masker kunyit agar bisa menghaluskan sekaligus memutihkan kulit adalah dengan cara mencampurkan kunyit dengan madu. Caranya sangat mudah yaitu haluskan terlebih dahulu kunyit secukupnya, kemudian tambahkan satu sendok madu. Setelah bahan tersebut tercampur rata maka bisa langsung dijadikan masker wajah atau untuk luluran di tubuh Anda. Diamkan saja selama 20 menit kemudian baru dibilas menggunakan air bersih, lakukan cara ini secara rutin dan konsiten selama 7 hari berturut-turut.

2. Campuran Kunyit dan Air Mawar
Jika cara diatas kunyit dicampur dengan madu maka kali ini kita akan mencampur kunyit dengan air mawar. Cara membuatnya adalah kita haluskan kunyit secukupnya kemudian tambahkan dengan 2 sendok makan air mawar. Aduk hingga tercampur rata, kemudian setelah itu bisa langsung diaplikasikan pada wajah. Oleskan secara merata pada kulit wajah maupun tubuh Anda dan diamkan saja selama 20 menit. Air mawar ini berfungsi untuk menenangkan dan menyegarkan kulit sehingga sangat cocok dijadikan sebagai campuran masker kunyit.

3. Campuran Kunyit dan Susu Bubuk
Susu bubuk tidak hanya enak dan kaya vitamin ketika dikonsumsi tetapi juga bisa kita manfaatkan untuk memutihkan kulit wajah yaitu dengan cara dicampur dengan kunyit. Cara membuatnya sedikit mudah yaitu haluskan terlebih dahulu kunyit, lalu setelah halus baru kemudian campurkan susu bubuk dan air. Jika sudah tercampur dengan rata maka bisa langsung dijadikan masker, oleskan pada wajah secara merata dan diamkan saja selama 25 menit. Lakukan cara ini rutin dan teratur jika Anda ingin memiliki kulit putih dan halus.

4. Campuran kunyit dan kayu Cendana
Campuran kunyit dan kayu cendana juga bisa dijadikan andalan untuk memutihkan kulit dalam waktu singkat. Caranya sangat mudah yaitu haluskan kunyit hingga menjadi satu sendok kemudian campurkan dengan bubuk kayu cendana ¼ sendok makan. Setelah tercampur rata maka bisa langsung di oleskan pada kulit wajah dan diamkan selama 25 menit. Jika Anda ingin membuat ramuan ini untuk luluran kulit tubuh maka gunakan perbandingan 4:1 atau 4 sendok kunyit halus dicampur dengan 1 sendok makan bubuk kayu cendana.

5. Campuran Kunyit dan Mustard Oil
Campuran kunyit dan mustard juga sangat ampuh untuk mencerahkan kulit kita, fungsi mustard yang melembabkan dan menghaluskan sangat cocok jika diramu dengan kunyit untuk sebagai masker wajah. Cara buatnya sangat mudah campurkan saja kunyit yang sudah dihaluskan dengan mustard oil dengan perbandingan 1:1, lalu setelah itu bisa langsung dioleskan pada wajah. Biarkan hingga menggering setidaknya 25 menit, kemudian baru bilas masker tersebut.

inilah artikel tentang kunyit buat kecantikan. semoga bermanfaat buat kalian.

Rabu, 14 Desember 2016

AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM TRADISI LEGENA DS. KLUWIH

AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM TRADISI LEGENANAN

A.      Pengertian Akulturasi
              Akulturasi adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Dalam hal ini bisa dimisalkan dengan apabila masyarakat pendatang berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kebudayaan setempat.
              Bentuk akulturasi dalam tradisi Legenanan adalah pada rangkaian upacara tradisi Legenanan yang terdapat perpaduan antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Bentuk-bentuk akulturasi dalam upacara Legenanan diantaranya, adalah :
1.        Sesaji (tumpeng, ingkung, jajanan pasar, dan lain-lain) pada acara tahlilan. Dengan masuknya Islam, sesaji tersebut masih diadakan akan tetapi tujuannya tidak lagi untuk dipersembahkan kepada sing mbau rekso dan leluhur melainkan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala karunia dan nikmatnya yang telah diberikan kepada masyarakat desa Kluwih.
2.        Upacara Legenanan di desa Kluwih yang semula menggunakan mantra untuk memuja sing mbau rekso dan leluhur yang sudah meninggal dengan masuknya Islam mantra tersebut juga diiringi dengan do’a-do’a sesuai tuntunan syari’at Islam yang didalamnya menggunaan bahasa Jawa (maujud) untuk berdo’a kepada Allah Yang Maha Kuasa.
3.        Akulturasi antara kisah atau pakem pewayangan yang berdasarkan budaya Hindu-Budha yang kemudian digabungkan dengan unsur-unsur Islam:
·         Kalimah-Syahadah dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa atau Samiaji sebagai saudara tua dari Pandawa, karena kalimah Syahadah memang rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, sifat-sifat  Puntadewa sebagai raja (syahadat bagaikan rajanya rukun Islam) yang memiliki sikap berbudi luhur dan penuh kewibawaan. Seorang raja yang arif bijaksana, adil dalam ucapan dan perbuatan, sebagai pengejawantahan dari kalimah Syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Puntadewa memimpin empat saudaranya dengan penuh suka duka dan kasih sayang. Demikian pula kalimah Syahadat sebagai “rajanya” rukun Islam yang lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, namun apabila tak menjalankan rukun Islam yang pertama maka semua amalannya akan sia-sia belaka.
·         Shalat lima waktu dipersonifikasikan dalam tokoh Bima. Dalam kisah pewayangan tokoh tersebut dikenal juga sebagai Penegak Pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang tidak dapat duduk. Tidur dan merempun konon berdiri pula. Demikian pula sholat lima waktu selamanya harus ditegakkan. Baginya terpikul tugas penegak agama Islam dan jangan lupa sholat adalah tiang agama. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “ Shalat lima waktu adalah penegak agama Islam. Siapa-siapa yang menjalankannya berarti menegakan Islam”.
·         Zakat dipersonifiksikan dengan tokoh ketiga dalam Pandawa yakni Arjuna. Nama Arjuna diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan symbol jiwa yang jernih. Kejernihan Arjuna memancar pada jiwa dan tubuhnya. Arjuna juga merupakan seorang pecinta seni keindahan. Perasaannya amat halus dan hangat. Karena kehalusannya, Arjuna jadi sulit mengatakan “tidak”. Karena kehalusan budi pekertinya tersebut Arjuna seolah-olah mempunyai kesan lemah. Padahal semua itu dilakukan agar tidak menyakiti hati orang lain. Selain itu dalam perang yang dijalaninya Arjuna tidak terkalahkan. Maka demikianlah, zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, karena setiap muslim berkewajiban berzakat, mengandung inti kebijaksanaan agar setiap orang Islam untuk berjuang memperoleh rizki dan kekayaan. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Bima dan Arjuna paling menonjol peranannya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi dwi-tunggal yang tidak terpisahkan. Demikian pula sholat lima waktu dan zakat merupakan dua rukun Islam yang tidak terpisahkan, selamanya berjalan seiring-sejalan.
·         Puasa Ramadhan dan Haji, dipersonifikasikan dalam tokoh kembar Nakula-Sadewa. Kedua tokoh ini tampil pada saat-saat tertentu saja. Demikian pula dengan puasa Ramadhan dan Haji tidak setiap hari dikerjakan. Bulan Ramadhan untuk puasa dan bulan Zulhijah, sekali dalam setahun untuk melakukan ibadah Haji. Pandawa bukanlah Pandawa tanpa si kembar Nakula dan Sadewa. Memanglah demikian, Puasa Ramadhan dan Haji lahir pada bulan tertentu, tidak demikian halnya dengan 3 rukun Islam sebelumnya, yang dilakukan setiap saat tiap hari.
              Kemudian pada hiburan yang ada dalam tradisi Legenanan adalah Wayang Golek, yang mana wayang golek tersebut salah satu bentuk akulturasi antara budaya hindu-budha dengan Islam.
              Pewayangan mempunyai andil besar dalam pengislamanan masyarakat Jawa. Sebetulnya wayang sendiri merupakan peninggalan agama Hindu. Namun para Wali dapat berpikir rasional. Mereka sadar bahwa pertunjukan wayang telah berakar kuat di masyarakat dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu saja. Maka para wali melakukan perubahan dengan cara mengubah bentuk dan memasukan unsur ke-Islaman, sehingga wayang menjadi suatu alat da’wah yang sangat digemari dalam masyarakat. Di antara para wali yang sangat terkenal sering mendalang adalah Sunan Kalijaga.
              Sunan Kalijaga sangat berhasil  dalam berdakwah melalui media wayang. Unsur baru berupa ajaran Islam dimasukkan dalam pewayangan. Ia membuat “pakem pewayangan baru” yang bernafaskan Islam dengan cara menyelipkan ajaran Islam dalam pakem pewayangan yang asli. Dengan cara demikian, masyarakat yang menonton wayang dapat menerima langsung ajaran Islam dengan suka rela dan mudah.
              Wayang golek mengambil metode dengan jalan mempersonifikasikan atau memanusiakan tokoh-tokoh “Pandawa Lima” seperti Puntadewa untuk Syahadat, Bima untuk Shalat, Arjuna untuk zakat, Nakulo-Sadewa untuk puasa Ramadhan dan Haji. Bahkan kisah-kisah pewayangan dijadikan media terutama untuk mengajarkan ilmu Tasawuf , hakikat, syariat, ibadah dan lain-lain.
              Dalam kesenian wayang tentunya tidak akan terlepas dari peranan seorang dalang. Dulu dalang dianggap sebagai seseorang yang sangat dihormati, dihargai, dan disegani oleh masyarakat. Ia dianggap mempunyai kelebihan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat. Misalnya menyelamatkan seseorang dari malapetaka, menentukan hari baik, dan hari buruk menurut primbon, menyembuhkan berbagai penyakit, peranan dalang layaknya seorang dukun. Dalang sebenarnya berasal dari kata Arab “dalla” yang artinya “juru penerang” yang bertugas memberikan penerangan tentang Islam lewat wayang golek. Jadi tugas dan peranan seorang dalang dalam masyarakat sangatlah penting, terutama sebagai penyelamat umat manusia seutuhnya, dengan cara memberikan penerangan ajaran Islam lewat media pewayangan. Mengingat peranannya tersebut, maka dalang harus mengetahui, memahami, dan menguasai semua ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama Islam.




B.     Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Legenanan Bagi Kehidupan Mereka

              Dalam menanggapi tradisi Legenanan yang ada di desa Kluwih tiap orang satu dengan yang lain selalu berbeda-beda, dengan demikian persepsi masyarakat desa Kluwih terhadap tradisi Legenanan ini dapat dikelompokkan berdasarkan mata pencaharian yang ada di desa Kluwih, diantaranya:
a.    Petani
        Legenanan yang diwariskan dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat desa Kluwih, tidak mungkin tidak menyimpan nilai-nilai luhur. Hal itu dapat dicermati pada makna-makna yang terkandung dalam simbol-simbol. Pada pelaksanaan tradisi Legenanan di desa Kluwih telah meneladankan semangat bahwa manusia tidak hidup sendirian. Mereka membutuhkan bantuan dari kekuatan lain yang adikodrati.
        Legenanan yang diselengarakan oleh masyarakat desa Kluwih mengandung nilai-nilai yang erat kaitannya dengan kehidupan mereka sebagai petani. Nilai yang dapat dipetik hikmahnya adalah adanya gotong royong, saling tolong menolong dalam mengerjakan pekerjaan mereka.
        Menurut kepercayaan mereka bahwa Legenanan tersebut dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang telah diberikan, karena mayoritas mata pencaharian di desa Kluwih adalah bertani. Disamping itu, mereka percaya bahwa dengan bersahabat dengan alam maka hasil bumi tersebut akan mereka peroleh. Mengingat kembali apa yang dikatakan oleh bapak Rakoep sebagai salah satu dari petani di desa Kluwih,
 “Karena, segala rezeki yang kita dapat itu tidak hanya berasal dari kita sendiri, melainkan lewat campur tangan Tuhan,” maka kita diajarkan untuk terus mendekat pada Tuhan. Menurutnya, rezeki itu tidak semata uang, tapi juga kebahagiaan, kenyamanan dan keamanan berkehidupan dalam masyarakat. Upacara Legenanan menurut kepercayaan di Desa Kluwih, wajib dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya dengan melaksanakan upacara Legenanan dipercaya akan mendatangkan kebaikan. Kami percaya bahwa bumi yang ditempati akan aman dan tidak terjadi bencana, Apabila “diselameti”.

        Ritual Legenanan yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat Kluwih ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan. Menurut cerita dari para nenek moyang orang Jawa terdahulu, "Tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar. Ritual Legenanan inilah yang menurut mereka sebagai salah satu simbol yang paling dominan bagi masyarakat untuk menunjukan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberi kehidupan bagi manusia". Dengan melakukan ritual Legenanan, masyarakat berharap tanah yang dipijak tidak akan pernah marah seperti tanah longsor dan bisa bersahabat bersandingan dengan masyarakat yang menempatinya. Selain itu, Legenanan dalam tradisi masyarakat, juga merupakan salah satu bentuk untuk menuangkan serta mencurahkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah yang telah diberikan-Nya. Sehingga seluruh masyarakat bisa menikmatinya.
b.    Pegawai Negeri Sipil (PNS)
        Legenanan mengajarkan kepada masyarakat desa Kluwih untuk saling membantu meringankan beban sesama yang dimanifestasikan dalam bentuk pembagian hasil panen dan hasil bumi lainnya. Legenanan tidak hanya mengajarkan masyarakat desa untuk saling berbagi kepada sesama, namun juga menjadi wadah untuk suatu interaksi sosial yang terwujud  dalam upaya saling merekatkan tali persaudaraan. Interaksi ini pada akhirnya akan memunculkan perubahan dalam masyarakat. Dengan demikian, sangat jelas bahwa adanya Legenanan akan sangat berpengaruh pada rotasi kehidupan sosial masyarakat desa Kluwih. Sekurang-kurangnya mereka akan menjadi masyarakat yang terbuka antar satu dengan lainnya. Dengan sikap terbuka itu pula sebuah masyarakat akan kokoh.
             Pada zaman dahulu, upacara Legenanan merupakan sarana pemujaan kepada nenek moyang dan sekaligus pemujaan kepada Dewi Sri (Dewa Kesuburan menurut mitologi agama Hindu) agar masyarakat dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan dan diberi kesuburan, sehingga akan tercipta masyarakat toto tentrem gemah ripah loh jinawi. Kini, hakekat upacara Legenanan adalah usaha bersama masyarakat memohon kepada Tuhan Allah SWT agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana serta selalu diberi kesejahteraan atau akan tercipta baldatun toyyibatun warabbun ghofur. Generasi penerus perlu memiliki sikap nguri-nguri terhadap kesenian tradisional. Siraman rohani dalam pengajian umum dalam rangka upacara Legenanan dipandang sebagai sarana untuk memperdalam wawasan keagamaan. Salah persepsi terhadap upacara Legenanan sedikit demi sedikit mulai terkikis, sehingga diharapkan pelaksanaan upacara Legenanan sejalan dengan ajaran agama Islam. Usaha masyarakat mempertahankan tradisi upacara Legenanan yang berasal dari tradisi nenek moyang dengan memasukkan unsur ajaran agama Islam, menunjukkan telah terjadi akulturasi antara budaya Jawa dan Islam pada prosesi dari tradisi Legenanan dan pertunjukan wayang golek tersebut.
c.    Pedagang
        Legenanan merupakan ajang untuk bersosialisasi. Dalam melakukannya masyarakat tidak membedakan satu orang dengan orang lainnya berdasarkan kelas-kelas, mereka membaur menjadi satu dengan adanya Legenanan. masyarakat berusaha untuk tidak melakukan diskriminasi diantara sesama. Bagi masyarakat desa sosialisasi memiliki arti dan manfaat yang sangat penting. oleh karena itu mereka sangat menjaga keharmonisan hidup dengan masyarakat disekitarnya.
d.   Karyawan Swasta
        Legenanan berfungsi sebagai penyeimbang kesenjangan ekonomi yang terjadi pada suatu masyarakat. Adanya upacara Legenanan seperti ini telah mempengaruhi rotasi perekonomin masyarakat kecil, yakni tingkat desa. Hal ini tentu tidk boleh dikesampingkan, sebab dengan adanya Legenanan masyarakat yang kurang mampu akan merasa terbantu.
        Upacara Legenanan merupakan salah satu bentuk syukur kita atas berkat Allah SWT yang telah memberikan rizki kepada kita. Sehingga kita wajib untuk mensyukuri nikmat Allah SWT tersebut. Legenanan adalah salah satu adat istiadat yang sampai sekarang masih terjaga keberadaannya, sehingga kita bagi para penerus untuk tetap melestarikannya, meskipun kadang tradisi Legenanan ini terasa begitu tidak penting karena memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagian masyarakat merasa keberatan dengan jumlah iuran yang dibebankan kepada mereka untuk melaksanakan upacara tradisi Legenanan tersebut.
e.    Aparatur Desa
        Legenanan adalah wujud dari syukur masyarakat. Dahulu Masyarakat kita kebanyakan sebagai petani. Sehingga wujud dari hasil panen adalah mengadakan tasyakuran. Dan mengacu pada ayat al-Qur’an, La in syakartum la azidannakum walainkafartum inna adzabi lasyadiid. Kurang lebih artinya barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih. (Q.S. Ibrahim : 7). Untuk sekarang dengan beragamnya profesi masyarakat tentu sekilas sudah tidak sejalan lagi namun yang tidak boleh kita tinggalkan adalah wujud dari syukur tersebut. Salah satunya kebersamaan dan juga demi menyambung silaturahmi minimal 1 tahun sekali.
        Legenanan merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kluwih. Adapun pelaksanaannya tergantung keputusan dari pihak pemerintahan desa setempat. Hiburanpun juga harus sesuai dengan tradisi sebelumnya atau berdasarkan peninggalan nenek moyang yaitu berupa pagelaran wayang golek. Dengan demikian seolah-olah mempunyai kesan bahwa pagelaran wayang golek merupakan pertunjukan yang harus ada dalam tradisi Legenanan. Berdasarkan sejarahnya, wayang golek tersebut dulunya merupakan bentuk nadzar yang dilakukan oleh para petani atau nenek moyang terdahulu jika hasil panen mereka baik maka akan mengadakan hiburan wayang golek. Atas kejadian itu lalu hiburan wayang golek oleh masyarakat dilaksanakan hingga sekarang secara turun temurun dalam tradisi Legenanan. Legenanan sangat penting dilaksanakan untuk menjaga warisan budaya leluhur yang telah dilaksanakan secara turun temurun, sehingga kelestariannya tetap terjaga.    
        Dalam pelaksanaan upacara Legenanan, ada beberapa nilai-nilai yang dapat direkomendasikan sebagai nilai-nilai yang perlu diwariskan kepada generasi penerus, yaitu (1) sikap religius masyarakat, yang tercermin sikap masyarakat yang selalu ingat kepada Allah SWT, sebab alam dan seluruh isinya adalah ciptaan-NYA. Manusia diciptakan oleh Allah SWT, kecuali hanya untuk beribadah kepada-NYA. Semakin manusia itu dekat kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan menurunkan karunia dan rahmat-NYa yang dapat berupa kesejahteraan dan kedamaian. (2) selalu ingat kepada jasa-jasa leluhur atau nenek moyang yang telah mendirikan desa. Sikap ini perlu ditanamkan kepada generasi penerus, sehingga harapan kita, generasi penerus akan memiliki sikap mikul duwur mendem jero. Disamping itu ada beberapa sikap yang telah diperlihatkan oleh masyarakat  dalam melaksanakan upacara Legenanan, dan sikap itu harus tertanam dalam hati para muda, yaitu (1) sikap gotong-royong. Dalam melaksanakan hajatan upacara Legenanan, warga masyarakat saling bahu membahu, bekerja bersama-sama tanpa dibayar. Sikap tanpa pamrih masih tertanam dalam hati masyarakat pedesaan yang masih tetap hidup  bersahaja, (2) sikap hidup rukun saling tolong menolong  yang tercermin dari hidup guyub senantiasa terpelihara dalam kehidupan masyarakat Desa Kluwih, (3)  sikap masyarakat yang senantiasa memelihara silaturahmi sesama warga merupakan modal untuk hidup rukun, sebab dengan memelihara tali silaturahmi, akan tercipta hidup yang damai jauh dari rasa saling curiga mencurigai. Dengan demikian materi upacara Legenanan yang di dalamnya mengandung kearifan lokal merupakan materi yang dapat digunakan sebagai pengayaan pembelajaran sejarah.
             Upacara Legenanan yang dilaksanakan masyarakat desa Kluwih secara ekonomis tidak memiliki dampak signifikan bagi peningkapan kesejahteraan masyarakat, tetapi sebaliknya justru biaya untuk menyelenggarakan upacara Legenanan mencapai  puluhan juta rupiah.  Sekalipun demikian  dalam perspektif pendidikan, upacara Legenanan bermanfaat untuk pengembangan pendidikan, karena dalam ritual tersebut terdapat nilai-nilai pembelajaran, baik yang bersifat sosial yaitu sikap gotong royong, sikap sodaqoh, pasrah, maupun sikap hormat kepada leluhur. Penyelenggaraan Legenanan mengingatkan kepada generasi penerus agar selalu mengingat dan menghormati para leluhur.



Selasa, 13 Desember 2016

Makalah PERMINTAAN TERHADAP FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI



MAKALAH
PERMINTAAN TERHADAP FAKTOR FAKTOR PRODUKSI
                                               
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Mikro
Dosen Pengampu :
M. Syukron , M.Ei.


Disusun Oleh :
1.      Tuti Reyna Umayah
2.      Yudha Prastiyowati
3.      Nur Annisa


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
Jl. Kusuma Bangsa No. 9 Pekalongan
Tahun 2016


KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun tugas makalah yang berjudul “Permintaan Terhadap Faktor Faktor Pruduksi”.
Tugas makalah ini disusun untuk memenuhi syarat salah satu tugas Ekonomi Mikro. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1.      M. Syukron , M.Ei. selaku dosen pembimbing
2.      Rekan rekan yang selalu mendukung dan membantu ikut serta dalam pembuatan makalah
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini sangat jauh dari sempurna, maka penulis mengharap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan tugas makalah ini. Untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar besarnya. Mudah mudahan tugas makalah ini dapat menjadi manfaat bagi yang lainnya.



                                                                                                            Penulis,






BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam kegiatan memproduksi, pengusaha pengusaha terlebih dahuluharus memperhatikan  keadaan dipasar barang.
Langkah ini mempunyai dua tujuan , yaitu untuk menentukan jenis barang yang diinginkan oleh para konsumen. Peninjauan ini memberikan petunjuk kepada perusahaan tentang jenis barang yang sebaiknya mereka produksikan, dan untuk menentukan besarnya tingkat produksi yang sebaiknya dicapai, yaitu tingkat produksi yang akan menghasilkan keuntungan maksimum kepad mereka. Hal ini melatar belakangi pembuatan makalah, bagaimana menentukan upah tenaga kerja dalam hubungannya dengan tingkat priduktifitasnya, selain itu kita juga dapat mengetahui bagaimana menentukan upah dalam suatu peusahaan diberbagai jenis pasaryaitu pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar monopsony dan pasar monopoli bilateral.
Selain menentukan upah dipasar tenaga kerja, kita juga akan diperhadapkan dengan penentuan sewa, bunga, dan keuntungan.
1.2    Tujuan dan Manfaat Penulisan
Dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama dalm kelompok dengan baik.
Memberi pelatihan berbasis kompetensi untuk mengembangkan keterampilan mengamati dan mendokumentasi semua aspek yang berkaitan dengan permintaan terhadap factor factor produksi, penentuan upah dipasar tenaga kerja, serta sewa bunga dan keuntungan.








BAB II
PEMBAHASAN

1.      PENTINGNYA ANALISIS PENENTUAN HARGA FAKTOR
       Sedikit sedikitnya terdapat dua alasan yang menyebabkan kebutuhan untuk menganalisis permintaan dan penawaran le atas factor factor produksi, yaitu
a.       Pengalokasian Faktor Produksi
Keinginan masyarakat adalah tidak terbatas, sedangkan sumber sumber daya yang tersedia mempunyai kemempuan yang terbatas dalam menghasilkan barang barang yang diinginkan tersebut. Maka yang dapat diusahakan adalah memaksimumkan produksi yang dapat diciptakan oleh sumber sumber daya yang tersedia tersebut. Tujuan ini akan tercapai apabila mereka dapat dialokasikan ke berbagai kegiatan ekonomi secara optimal, yaitu corak penggunaannya adalah sedemikian rupa sehingga produksi yang mereka ciptakan mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang paling maksimum. Juga di dalam setiap perusahaan usaha untuk menciptakan pengalokasian factor factor produksi yang optimal harus dijalankan. Disatu pihak, usaha tersebut adalah penting karena tindakan tersebut  akan membantu tujuan keseluruhan perekonomian untuk mengalokasikan sumber sumber daya secara efisien. Dilain pihak, usaha tersebut  adalah perlu karena keuntungan perusahaan tersebut, dan adakalanya survival perusahaan adalah tergantung kepada kemampuan perusahaan tersebut untuk menggunakan factor produksi yang dapat diperolehnya secara efisien.
b.      Penentuan Pendapatan dan Distribusi Pendapatan
Setiap Faktor produksi yang terdapat dalam perekonomian dimiliki oleh anggota rumah tangga. Pemiliknya menyediakan factor produksi tersebut untuk digunakanb oleh para pengusaha dan sebagai balas jasanya mereka akan memperoleh pendapatan. Tenaga kerja mendapat gaji, tanah memperoleh sewa, modal memperoleh bunga dan keahlian keusahawan memperoleh keuntungan. Pendapatan yang diperoleh masing masing jenis factor produksi tersebut tergantung kepada harga dan jumlah masing masing factor produksi yang digunakan. Contoh, besarnya pendapatan dari sewa tergantung pada luasnya tananh dam bangunan yang disewakan.
Jumlah pendapatan  yang diperoleh berbagai factor produksi yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu barang adalah sama dengan harga dari barang tersebut. Dengan demikian, didalam suatu perusahaan, hasil penjualannya adalah merupakan jumlah dari seluruh pendapatan factor factor produksi yang digunakan dalm perusahaan tersebut.
Kesimpulannya adalah bahwa analisis mengenai factor factor produksi meliputi ; menjelaskan tentang penentuan harga harga factor produksi, menjelaskan tentang pendapatan dari masing masing factor produksi, dan distribusi pendapatan ke berbagai jenis factor produksi.
2.      TEORI PRODUKTIVITAS MARJINAL
Teori Produktifitas Marjinal yaitu bagaimana menggunakan suatu produksi sampai kepada tingkat dimana keuntungan maksimum akan tercapai. Suatu factor produksi akan menciptakan keuntungan paling maksimum apabila memenuhi persyaratan berikut ;
Menentukan jumlah factor produksi yang digunakan. untuk memahami perumusan tersebut, berikut contohnya. Misalkan seorang produsen sedang mempertimbangkan untuk menggunakan satu unit lagi tambahan factor produksi tertentu, katakanlah tenaga kerja, dan untuk melaksanakannnya ia harus mengeluarkan biaya produksi tambahan (yaitu biaya gaji tenaga kerja tersebut) sebanyak Rp10000. Apakah yang akan dilakukan oleh produsen sekiranya produksi tambahan yang diciptakan tenaga kerja menambah hasil penjualan sebanyak Rp8000 ? sebanyak  Rp14000? Atau sebanyak 10000?.
Syarat Pemaksimum Keuntungan, andaikata produsen memperoleh hasil penjualan tambahan sebanyak Rp8000, keuntungan produsen itu akan berkurang sebanyak Rp 2000 dan ini akan menyebabkan ia akan membatalkan rencananya. Sebaliknya, apabila ia memperoleh  Rp 14000, keuntungan produsen itu akan bertambah sebanyak Rp 4000, dan menyebabkannya menggunakan tambahan factor produksi tersebut . Sekiranya ia hanya menerima hasil penjualan  tambahan sebanyak Rp10000 perusahaan tersebut dapat memilih salah satu dari dua keputusan berikut; membatalkan atau meneruskan rencananya. Kedua dua keputusan ini tidak mempengaruhi keuntungannya, tidak bertambah atau berkurang, maka pada tingkat penggunaan factor produksi tersebut telah mencapai keuntungan yang maksimum. Apabila penggunaan factor produksi terus ditambah keuntungan akan berkurang. Dan apabila jumlah tenaga kerja yang digunakan dikurangi, jadi keuntungan akan berkurang.



3.      PERSAINGAN TIDAK SEMPURNA DAN PERMINTAAN PRODUKSI
Permintaan Faktor
Dalam pasar barang yang bersifat tidak sempurna harga akan menjadi semakin rendah pada tingkat produksi/penjualan barang yang semakin tinggi. Harga yang semakin rendah ini menyebabkan hasil penjualan total dan hasil penjualan marjinal pada setiap tingkat penggunaan tenaga kerja adalah lebih rendah dari yang terdapat dalam pasar persaingan sempurna.
4.      SIFAT PERMINTAAN TERHADAP FAKTOR PRODUKSI
Dalam menerangkan sifat sifat permintaan terhadap faktok-faktor produksi dua ciri-cirinya akan diterangkan, yaitu (i) permintaan faktor adalah permintaan terkait dan(ii) kurva permintaan terhadap faktor -faktor produksi berbentuk menurun dari kiri atas ke kanan bawah.
      
PERMINTAAN TERKAIT
Seorang konsumen , apabila membeli barang atau jasa, melakukan hal itu untuk memenuhi kebutuhannya. Seorang konsumen membeli mobil, misalnya, supaya ia dapat pergi ke kantor dengan mudah, dapat membawa keluarganya jalan-jalan, dan dapat dengan mudah bepergian ke berbagai tempat apabila hal itu sewaktu-waktu diperlukan.
       Permintaan seorang pengusaha ke atas factor-faktor produksi mempunyai sifat yang berbeda.
Tujuan para  pengusaha untuk memperoleh factor-faktor produksi bukanlah untuk memenuhi kebutuhannya. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh keinginan pengusaha untuk menghasilkan barang-barang yang akan dijualnya ke pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Telah ditunjukan bahwa kegiatan pengusaha memproduksi barang bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Maka banyaknya faktor produksi yang akan digunakan pengusaha tergantung kepada keuntungan yang mungkin diperolehnya. Selama pertambahan penggunaan sesuatu faktor produksi akan menambah keuntungannya, lebih banyak factor produksi tersebut akan digunakannya. Oleh karena permintaan pengusaha ke atas sesuatu factor produksi ditentukan oleh kemampuan factor produksi tersebut untuk menghasilkan barang yang dapat dijual pengusaha itu dengan menguntungkan, permintaan factor-faktor produksi dinamakan permintaan terkait atau derived demand.

BENTUK KURVA PERMINTAAN FAKTOR
Seperti juga dengan permintaan konsumen ke atas sesuatu barang , permintaan produsen ke atas sesuatu factor produksi dapat ditinjau dari dua sudut, permintaan seorang produsen , dan permintaan seluruh produsen dalam sesuatu pasar faktor . sifat permintaan seorang produsen telah ditunjukan dalam contoh-contoh di bagian yang terdahulu dari bab ini. Dapat dilihat bahwa kurva permintaan ke atas faktor produksi bersifat : menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Kurva seperti itu menggambarkan bahwa tinggi harga faktor produksi, makin sedikit permintaan ke atas factor tersebut.
       Permintaan pasar terhadap sesuatu factor produksi merupakan jumlah dari permintaan seluruh produsen yang ada dalam pasar factor produksi tersebut. Oleh karena permintaan seorang produsen tehadap factor produksi berbentuk menurun dari kiri atas ke kanan bawah, sudah tentulah permintaan pasar (permintaan dari seluruh produsen ) akan mempunyai sifat yang demikian juga. Ini berarti pula bahwa permintaan pasar terhadap sesuatu factor produksi sifatnya adalah : apabila harga faktor semakin tinggi, permintaannya akan menjadi semakin rendah. Kurva permintaan terhadap sesuatu faktor pada umumnya menurun kebawah karena (i) perubahan harga akan mengubah pendapatan riil pembeli dan perubahan pendapatan riil ini selanjutnya mempengaruhi permintaannya, (ii) perubahan harga mengubah kepuasan relatif dari mengkonsumsikan barang itu kalau dibandingkan dengan barang lain. Permintaan ke atas sesuatu factor produksi digambarkan oleh kurva yang menurun ke bawah disebabkan oleh tiga faktor berikut :
·         Hubungan yang berbalikan antara harga factor produksi dan permintaan barang.
·         Sifat substitusi di antara satu produksi dengan factor produksi lainnya.
·         Hukum hasil lebih yang semakin berkurang.
5.      PERGESERAN KURVA PERMINTAAN FAKTOR PRODUKSI
            Terdapat beberap factor yang dapat menggeser kurva permintaan produsen terhadap factor-faktor Produksi. Yang terpenting adalah :
a)      Perubahan permintaan ke atas barang yang diproduksikannya.
Telah diuraikan bahwa karena permintaan terhadap factor produksi merupakan permintaan terkait, perubahan dalam permintaan terhadap suatu barang yang menyebabkan perubahan dalam produksi akan menimbulkan perubahan dalam permintaan keatas factor produksi tersebut. Kenaikan permintaan suatu barang merndorong pengusaha untuk menaikkan produksi, dsan kenaikkan memerlukan lebih banyak produksi. Sebaliknya, apabila permintaan sesuatu barang berkurang, pengusaha terpakasa mengurangkan produksi dan permintaan factor produksi.
b)      Perubahan harga dari factor produksi lain yang digunakan
Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya perubahan keatas factor produksi lain yang digunakan Perubahan harga factor produksi lain tersebut merupakan salah satu sebabnya yang penting. Sekiranya factor produksi lain menjadi semakin murah, biaya produksi akan dapat diturunkan apabila mereka lebih banyak digunakan. Ini akan mengurangi penggunaan factor produksi yang harganya tidak mengalami perubahan.
Kenaikan produktifitas sesuatu  factor produksi lain juga dapat menyebabkan factor produksi itu lebih banyak digunakan dan mengurangi penggunaan keatas factor produksi yang produktifitasnya tidak mengalami perubahan.
6.      ELASTISITAS PERMINTAAN FAKTOR PRODUKSI
Sesuatu perubahan harga factor produksi akan menimbulkan akibat yang berlainan keatas perubahan jumlah berbagai factor produksi yang digunakan.  Ada beberapa factor penting yang mempengaruhi elastisitas permintaan sesuatu factor produksi , diuraikan dibawah ini :
a.       Elastisitas Permintaan dari Barang yang Dihasilkan
Penurunan harga factor  produksi menyebabkan pengurangan keatas biaya produksi, dan ini selanjutnya mendorong perusahaan mengurangi harga dari barang yang diproduksinya. Pengurangan harga tersebut akan menaikkan permintaan keatas barang yang dihasilkan. Makin elastis permintaan barang tersebut, makin besar kenaikkan permintaan yang disebabkan oleh penurunan harga. Sedangkan pertambahan yang besar keatas permintaan selanjutnya akan menambah permintaan yang besar pula keatas factor produksi. Dengan demikian, semakin elastisitas permintaan terhadap barang yang dihasilkan semakin elastisitas pula permintaan terhadap factor produksi.
b.      Perbandingan antara biaya factor produksi dengan biaya total
Untuk meliahat bagaimana hal ini mempengaruhi elastisitas permintaan terhadap factor produksi, perhatikan perbandingan berikut : (i) disuatu perusahaan , sebanyak 50% dari biaya produksi sesuatu barang terdiri dari pembayaran kepada sesuatu factor produksi, dan (ii) disuatu perusahaan lain hanya sebanyak 10% dari biaya produksi digunakan untuk membayar factor produksi yang sama. Permintaan keatas factor produksi dari perusahaan manakan yang elastis ?
              Untuk memperoleh jawabannya, akan diperhatikan akibat perubahan harga factor produksi terhadap biaya produksi, ismalnya harga factor produksi itu naik sebanyak 25%. Untuk perusahaan yang biaya produksinya seperti yang dinyatakan dalam (i), kenaikkan tersebut akan menaikkan biaya produksinya sebanyak 12,5%. Tetapi untuk perusahaan yang biaya produksinya dinyatakan dalam (ii), kenaikan harga factor produksi tersebut hanya akn menaikkan biaya produksi sebanyak 2,5%. Oleh karena biaya produksi akan mempengaruhiharga, maka harga barang yang dihasilkan perusahaan pertama akan mengalami kenaikkan yang lebih tinggi dari harga bartang yang dihasilkan oleh perusahaan kedua. Sebagai akibatnya permintaan terhadap barang yang diproduksi perusahaan pertama mengalami penurunan yang lebih besar daripada permintaan terrhadap barang yang diproduksi perusahaan kedua. Penurunan permintaan factor produksi, seperti telah ditunjukkan sebelum ini, akan mengalami perubahan yang sama sifatnya dengan perubahan permintaan terhadap barang yang dihasilkan.. Dari keadaan ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar bagian dari biaya produksi total yang dibayarkan kepada suatu factor produksi, semakin lebih elaastis permintaan factor produksi tersebut.
c.       Tingkat Penggantian diantara Factor Produksi
Untuk memperoleh suatu barang biasanya diperlukan beberapa jenis factor produksi, dan untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu, terdapat beberapa gabungan factor produksi tang dapat dipilih. Andaikata diinginkan mencapai suatu tingkat produksi beras tertentu, sebagai contoh berbagai cara produksi dapat digunakan yaitu menguurangi tenaga kerja dan menggunakan lebih banyak pupuk, dsb. Oleh karena terdapat kemungkinan untuk mengganti suatu factor produksi dengan factor produksi lainnya, perubahan harga suatu factor produksi akan menimbulkan pengauh yang berbeda terhadap permintaannya. Apabila terdapat banyak factor produksi lain yang menggantikannya, permintaan terhadap factor produksi tersebut akan menurun kalau harganya naik, dan akan mengalami pertambahan yang banyak pada waktu harganya menurun. Tetapi apabila tidak banyak factor produksi yang dapat menggatikannya, kenaikkan atau penurunan harga produksi tersebut tidak mengubah jumlah yang diminta. Maka secara umun dapat diartikan bahwa semakin banyak factor factor produksi lainnya yang dapat menggatikan suatu produksi , semakin elastis permintaan keatas factor produksi tersebut.
d.      Tingkat Penurunan Produksi Fisik Marjinal
Hasil penjualan produksi marjinal sangat dipengaruhi oleh produksi fisik marjinal. Penurunan yang cepat ke atas MPP akan diikuti oleh penurunan yang cepat pula keatas MRP. Sebaliknya apabila MPP mengalami penurunan yang lambat maka MRP juga lambat sifat penurunannya. Telahpun digambarkan bahwa kurva MRP menggambarkan juga permintaan terhadap factor produksi. Ini berarti produksi fisik marjinal sangat mempengaruhi permintan keatas factor produksi, yaitu semakin cepat penurunan produksi fisik marjinal semakin tidak elastis permintaan terhadap factor produksi yang bersangkutan.






























BAB II
PENUTUP
3.
Teori Produksi menjelaskan tentang ciri permintaan terhadap permintaan produksi dan penentuan harga factor produksi. Analisis ini akan menerangkan bagaimana harga factor produksi dan jumlah factor produksi yang akdigunakan ditentukan. Analisis ini juga menerangkan syarat yang perlu dicapai untuk memaksimumkan keuntungan.
































DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono.2009. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers